Welcoming

Hi pals...nice to meet u all here ^_^
Please feel free to search any info which u need.


Jumat, 09 April 2010

Inspiration: How To Train Your Dragon The Movie

How To Train Your Dragon
(oleh Made Teddy Artiana, S. Kom)



Ada sebuah film animasi tiga dimensi (3D) yang sangat menghibur, namun sarat akan pelajaran moral yang luar biasa, yang sepertinya wajib kita tonton. Sebuah film yang kini kabarnya tengah menduduki puncak tertinggi urutan box office, dengan penghasilan tertinggi USA. Film itu adalah "How To Train Your Dragon". Saking uniknya, saya berencana menonton film ini untuk kedua kali lagi.

Film yang mengambil setting kehidupan bangsa Viking di jaman dahulu. Diceritakan pada waktu itu musuh bebuyutan orang Viking adalah Dragon/naga. Tetapi Naga orang Viking berbeda dengan persepsi Naga di kepala orang Asia, agak berbeda. Yang satu binatang melata berwujud ular raksasa, namun berkaki, yang lain punya sayap dan bisa terbang. Yang satu menelan mangsa, yang lain menyemburkan api. Tetapi keduanya punya wajah dan sisik mirip.

Saking musuh bebuyutannya kedua golongan ini, hingga dari jaman ke jaman mereka saling bunuh. Bahkan anak-anak orang Viking telah dilatih secara khusus untuk membunuh para naga. Pelatihan ini demikian serius hingga ditahapan puncak, mereka laksana gladiator romawi, diharuskan membunuh naga dalam sebuah gelanggang pertempuran yang ditonton seluruh suku bangsa mereka.

Ada beberapa jenis naga. Dari yang berkepala dua, kecil mungil berwarna-warni, bertubuh panjang merah, pendek gempal, hingga Night Furry, naga siluman yang tidak pernah tampak wujudnya (karena tak seorangpun pernah melihatnya) namun sangat ditakuti, karena “tembakan maut” api dari mulutnya laksana peluru kendali yang memiliki ketepatan yang luarbiasa.

Oleh suku bangsa Viking hampir semua naga memperoleh predikat : berbahaya dan bunuh ditempat, hanya Nigth Furry yang berpredikat berbeda : jika ia muncul, bersembunyilah dan berharaplah agar tidak diketahui alias tidak mungkin untuk dikalahkan dan sia-sia untuk dilawan.

Tersebutlah seorang remaja Viking bernama Hiccup. Jika bayangan kita terhadap orang Viking adalah kekar, seram, kuat, berbulu dan berambut panjang. Hiccup persis kebalikannya. Licin, klimis, letoi, berambut pendek lurus dan kurus ceking. Ia adalah kijang yang tersasar digerombolan singa Afrika. Ikan mujair diantara kumpulan para piranha.

Jika orang Viking selalu mengandalkan kekuatan mereka, Hiccup yang kebetulan tidak memilikinya, lebih mengandalkan sesuatu didalam kepalanya. Namun demikian karena standar yang mendominasi semua orang sebangsanya adalah "kekuatan" dan "kebengisan" dan bukannya "otak" dan "hati", maka kelebihan Hiccup tetap saja tidak mampu memberikan sumbangsih apapun bagi eksistensi dirinya. Sehingga Hiccup tetap merupakan noda yang cukup memalukan tidak hanya bagi seluruh kaumnya, namun terutama juga untuk sang ayah yang kebetulan kepala suku bangsa Viking yang sangat dihormati. Karena jangankan untuk membunuh naga -yang notabene adalah kebanggaan orang Viking- bertindak-tanduk sebagai seorang Viking pun, Hiccup sepertinya tidak akan pernah sanggup. Inilah yang membuat perasaan inferior tampak membayangi kehidupan Hiccup.

PadaDalam sebuah penyerangan segerombolan naga kepemukiman bangsa Viking, seperti yang lain, Hiccup bermaksud ikut berperang mengusir naga-naga itu. Tetapi ia terlalu lemah dan terlalu sial untuk berhasil. Namun tanpa sepengetahuan siapapun, Hiccup telah menciptakan sebuah alat untuk menyerang para naga. Dan alat itu ia gunakan, persis ketika naga "siluman" yang paling ditakuti -Nigth Furry- datang menyerang. Sebenarnya ia berhasil menembakkan alat itu kepada Nigth Furry, tetapi karena memang selalu bernasib sial, Hiccup kembali menimbulkan kekacauan dan kerugian besar dalam perang tersebut. Alhasil, ia kembali jadi bulan-bulanan kemarahan ayah dan bangsanya, walaupun ia berusaha mengatakan pada mereka bahwa senjatanya berhasil mengenai Nigth Furry, dan naga yang paling ditakuti sekaligus tak pernah terlihat wujudnya itu terjatuh disebuah bukit tak jauh dari pemukiman.

Pengakuan yang sangat terlalu mustahil, terlebih bagi seorang Hiccup.

Hingga akhirnya Hiccup berusaha membuktikan penglihatannya sendiri. Dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui senjatanya itu tidak hanya berhasil mengenai naga siluman itu, tetapi juga melukainya hingga naga yang paling ditakuti itu terluka dan tidak berdaya. Namun demikian Hiccup memutuskan tidak membunuh hewan yang sudah tidak berdaya itu. Ia terlalu berperasaan untuk melakukannya.

Lewat proses pemahaman yang demikian unik, terjalinlah persahabatan antara Hiccup dan Nigth Furry, yang kemudian ia namai dengan Toothless. Tidak hanya itu, Hiccup berhasil memahami perilaku naga itu, dan menjadikan Nigth Furry hewan tunggangannya. Sesuatu yang luar biasa dan tidak akan pernah terpikirkan oleh seorang Viking, yang segera akan lari tunggang langgang jika mendengar teriakan Nigth Furry yang mendirikan bulu roma.

Namun justru disinilah konflik itu mulai terjadi, ketika akhirnya persahabatan yang diharamkan ini diketahui oleh ayah dan bangsanya, sehingga mereka sangat murka terhadap Hiccup. Seperti biasa penjelasan Hiccup tentang naga-naga yang sebenarnya sama seperti perilaku bangsa Viking, dan manusia umumnya, yang membunuh jika terdesak dan merasa terancam, tidak pernah mendapat kesempatan untuk masuk kepikiran mereka. Mindset lama tentang "dibunuh atau terbunuh", terlalu menguasai pikiran mereka, sehingga pencerahan yang dibawa Hiccup dianggap sebuah dosa dan kesalahan fatal.

Singkat cerita, pemahaman baru ini justru menjadi sebuah senjata yang luar biasa bagi Hiccup yang akhirnya membawa ia menjadi seorang pahlawan yang sangat dikagumi oleh bangsanya, dengan bekerja sama dengan Nigth Furry untuk membunuh seekor naga raksasa yang jahat, yang menjadi gembong yang memaksa naga-naga lain yang jauh lebih kecil untuk mencuri, merampok hewan bangsa Viking.

Akhirnya para naga dan bangsa Viking tinggal berdiam dengan penuh harmoni di pemukiman yang sama.

Sebuah pelajaran moral yang aku anggap paling mengesankan adalah betapapun lemah, kurang, berbedanya diri kita dengan standard baku yang berlaku dimasyarakat, namun keunikan yang kita miliki tetap dapat dijadikan senjata ampuh untuk meraih kesuksesan hidup. Dan kesuksesan itu bisa jadi berbeda dengan yang ayah kita, keluarga, boss dikantor, para motivator, orang kebanyakan gariskan sebagai sebuah kelaziman. Dulu, hanya Copernicus yang mengatakan dunia ini bulat. Ia jelas-jelas berbeda dengan seluruh manusia yang ada saat itu. Ia berpendapat, sedangkan yang lain tidak berpendapat. Mereka hanya menelan bulat-bulat apa yang sudah terlanjur diturunkan dari moyang mereka. Dan kini jika ada orang yang mengatakan bahwa bumi ini datar, pastilah semua orang menganggap orang tadi sudah kehilangan akal warasnya, persis ketika dulu Copernicus dianggap tidak waras oleh orang sejamannya. Jadi jelas, bahwa kebenaran tidak selalu identik dengan gerombolan.

Para penyendiri, atau mereka yang dibuat sendiri, karena dianggap aneh oleh sekitar -walaupun tidak selalu mutlak benar- seringkali membawa pencerahan luar biasa bagi pola pikir yang sudah jenuh. Namun demikian memang tidak dapat disangkal bahwa kita adalah mahluk yang cenderung mengikuti arus masa kebanyakan.

Tapi tunggu dulu, sebelum terlalu jauh ada baiknya jika istilah “kelemahan” atau “perbedaan” dalam hal ini, tentu bukan merupakan sebuah perilaku minus yang memang harus diubah.

Sifat kurangajar dan tidak hormat.
Ketidakjujuran.
Kebiasaan merendahkan.
Berkata kasar dan suka menyakiti orang lain.
Malah belajar.
Penunda.
dll


yang seringkali mewakili ungkapan “Suka atau tidak, sifat ku memang begini” aku rasa diluar kategori pembahasan kita. Itu bukan kelemahan-kelemahan yang dimaksud. Itu sesuatu yang harusnya –jika kita memiliki harga diri yang cukup kuat- mendapat prioritas untuk diperbaiki segera.

Lahir disebuah keluarga miskin.
Tidak punya biaya untuk bersekolah.
Punya keadaan fisik yang serba kurang
(kurang tinggi, kurang cantik, kurang tampan).
Cacat.
Yatim piatu.
Korban brokenhome.
Dianggap bodoh/kurang pandai.
Gagap.
dll.


Adalah sederet keadaan tentunya masuk dalam kategori.

Seorang teman yang dari kecil sangat hobby akan seni ketrampilan tangan baru-baru ini curhat padaku. Ia merasa keluarga –biasanya hambatan dan hinaan itu datang dari orang-orang terdekat- menganggap hobby dan ketrampilannya ini tidak memiliki masa depan, sehingga keluarga mengharuskan ia mencari pekerjaan yang lebih mapan, yang sebenarnya tidak ia sukai. Padahal ada sebuah pengalaman yang sampai kini begitu berkesan dihatinya adalah ketika hasil karyanya dibeli mahal oleh seseorang karena dianggap sangat unik. Ini terjadi ketika ia duduk dikelas enam SD. Tapi apa lacur, orang tuanya menganggap itu semua sebagai sebuah kebetulan belaka.

Lain lagi cerita seorang kenalan, yang menjadi korban orang tua yang brokenhome. Ayah ibu bercerai. Ayah masuk penjara, ibu kawin lagi. Kini tinggalah ia sendiri berjuang bersama kedua adiknya yang masih kecil, bertahan hidup dengan beban psikologi yang begitu berat.

Belum lagi seorang kenalan lain –kali ini wanita- yang karena merasa diri kurang menarik, memutuskan untuk tidak pernah memulai hubungan dengan seorang pria, hingga usia nyaris mendekati empat puluh tahun. “Dari pada terluka, mending tidak”, begitu ungkapan favorite nya.

Seorang karyawan yang di-PHK justru dalam keadaan genting, istrinya sedang hamil tua, anak ke-3 !!!

Seorang istri dengan dua orang anak yang kemudian ditinggal mati oleh sang suami.

Dan lain-lain sebagainya. Mungkin kita tidak sadar bahwa cerita-cerita ini begitu sering hilir mudik didepan hidung kita.

Kontras dengan itu semua, Anthony Robin dalam buku fenomenalnya : The Awakening of Giant Within bercerita tentang sebuah kekuatan luar biasa yang ada pada diri setiap insan. Kekuatan yang seringkali tertidur dan menunggu untuk disadari eksistensinya, untuk kemudian mengambil alih peran hidup yang sementara ini dilakoni dengan tanpa daya.

Uniknya, seringkali kita membayangkan kekuatan itu sebagai sesuatu yang dashyat seperti : naga, harimau atau raksasa. Tentu saja tidak sepenuhnya keliru, karena memang daya dan kekuasaannya memang sehebat mahluk-mahluk tersebut.

Namun sebagaimana hidup yang selalu bermain petak umpet dalam cara-cara siluman (berkah dalam kemalangan, kegagalan mendahului kesuksesan, malaikat dalam rupa tak sewajarnya) kekuatan-kekuatan tadi lebih sering mengambil rupa justru dalam wujud yang sangat tidak kita sukai alias yang tidak kita duga. Kelemahan-kelemahan yang memalukan, yang membuat minder dan menekan urat syaraf itulah wujud mereka mula-mula.

Kini tergantung kita, apakah kita punya cukup keberanian untuk berhadapan dengan kelemahan-kelemahan itu –yang sebenarnya adalah naga, harimau atau raksasa yang sedang malih rupa. Ataukah kita karena putus asa, minder, merasa sial atau disia-siakan oleh hidup memilih balik kanan bubar jalan, atau mendekam dipojok ruangan hingga akhir hidup kita sambil terus bergumam tentang betapa menyedihkannya diriku ini.

Bahkan seekor naga (baca : kekuatan naga) pun perlu dilatih untuk memunculkan kekuatan mereka yang sebenarnya. Bagaimana cara melatihnya ? How to train your dragon ? Simple, dengan mengakui keberadaan mereka, kemudian mensyukuri semua kelemahan, keterbatasan kekurangan dan ketidakstandaran kita, lalu berhadapan face to face dengan hidup ini bersenjatakan kelemahan-kelemahan itu.

Maka segera saja kita akan temukan betapa sesuatu yang kita anggap kelemahan adalah senjata pamungkas yang diberikan Sang Pencipta kepada kita. Dalam arti kata, kita sudah dipersiapkan sebaik mungkin –jauh sebelum kita lahir- untuk menjadi lebih dari sekedar pemenang. DIA adalah pihak yang paling tahu bagaimana cara membentuk kita sehebat yang prototype yang sebenarnya IA rancang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar