Welcoming

Hi pals...nice to meet u all here ^_^
Please feel free to search any info which u need.


Kamis, 22 April 2010

Doyan Makan Ayam, Pria Bisa "Melambai"

COCHABAMBA, KOMPAS.com — Presiden Bolivia Evo Morales memperingatkan para pria untuk tidak terlalu sering menyantap daging ayam. Menurut Morales, pria yang keseringan mengonsumsi daging ayam berisiko mengalami masalah dengan rambut dan kejantanan mereka.

Pernyataan Morales itu diungkapkannya saat menghadiri suatu konferensi perubahan iklim, Rabu (21/4/2010). Ia menegaskan, praktik kecurangan yang dilakukan pihak industri dengan cara menyuntikkan hormon pada unggas adalah biang keladinya. "Hormon perempuan" yang disuntikkan itulah yang membuat para pria bermasalah dengan kejantanannya.

Ia juga mengingatkan kalau konsumsi daging ayam secara berlebihan untuk jangka panjang dapat membuat rambut pria mudah rontok dan menjadi botak. Tak lupa ia mengkritik negara-negara Barat dan menuduh negara-negara industri, termasuk Amerika Serikat yang telah menabur racun dalam makanan.

Namun begitu, peringatan Morales ini dinilai sudah tidak tepat lagi karena produsen daging ayam di Eropa dan AS atau banyak negara menyatakan telah melarang penggunaan hormon dalam ternak sejak beberapa tahun lalu.

Pernyataan Morales juga memicu protes dari berbagai pihak, termasuk kubu oposisi dan komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transeksual (LGBT). Presiden Komunitas LGBT Argentina, Cesar Cigliutti, menilai pernyataan Morales tidak berdasar.

"Sungguh absurd untuk berpikir bahwa menyantap ayam yang mengandung hormon dapat mengubah orientasi seksual seseorang. Dengan mengikuti alasan tersebut, jika kita menyuntikkan hormon pria pada ayam dan menyuruh kaum homoseksual memakannya, maka dia akan berubah menjadi heteroseksual," ujarnya.

Ribuan aktivis lingkungan, pemuka adat, dan pakar ekologi ikut ambil bagian dalam konferensi selama tiga hari di Bolivia yang memfokuskan pada negara-negara termiskin. Negara-negara ini disebut-sebut tidak didengar aspirasinya dalam konferensi resmi yang disponsori PBB di Kopenhagen, Desember lalu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar