Welcoming

Hi pals...nice to meet u all here ^_^
Please feel free to search any info which u need.


Jumat, 15 Juni 2012

Soegija

Siapa bilang Seniman itu tidak religius? Film Soegija membuktikan bahwa seniman itu memiliki rasa religiusitas yang tinggi. Para seniman mempunyai caranya sendiri untuk mengungkapkan imannya kepada Sang Pencipta. Dengan anugerah kreatifitas dari Sang Maha Kreatif inilah mereka menjadi co-creator di dunia bunyi, dunia imajinasi, dan dunia rasa merasa.

Synopsis:
Film ini ingin melukiskan kisah-kisah kemanusiaan di masa perang kemerdekaaan bangsa Indonesia (1940-1949). Adalah Soegija (diperankan Nirwan Dewanto) yang diangkat menjadi uskup pribumi dalam Gereja Katolik Indonesia. Baginya kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal-usul, dan ragamnya.

Dan perang adalah kisah terpecahnya keluarga besar manusia. Ketika Jepang datang ke Indonesia (1942), Mariyem ( Annisa Hertami) terpisah dari Maryono (Abe), kakaknya. Ling Ling (Andrea Reva) terpisah dari ibunya (Olga Lydia).

Tampaknya keterpisahan itu tidak hanya dialami oleh orang-orang yang terjajah, tetapi juga oleh para penjajah. Nobuzuki (Suzuki), seorang tentara Jepang dan penganut Budhist, ia tidak pernah tega terhadap anak-anak, karena ia juga punya anak di Jepang. Robert ( Wouter Zweers), seorang tentara Belanda yang selalu merasa jadi mesin perang yang hebat, akhirnya juga disentuh hatinya oleh bayi tak berdosa yang ia temukan di medan perang. Ia pun rindu pulang, ia rindu Ibunya.

Di tengah perang pun Hendrick (Wouter Braaf) menemukan cintanya yang tetap tak mampu ia miliki karena perang. Soegija ingin menyatukan kembali kisah-kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang sudah terkoyak oleh kekerasan perang dan kematian.

Komen sebagai penonton:
 Kesan pertama, saya sangat takjub dan antusias melihat animo masyarakat yang tinggi terhadap film "special" ini. Umat Katolik khususnya, yang memang sangat diharapkan utk menonton, serta umat agama lain yg ternyata juga lumayan banyak yang mau ikutan nonton juga.

Kenapa saya bilang film bioskop ini "special"?
Pertama, karena ini adalah salah satu film berkualitas karya asli anak Indonesia (Sutradara by Garin Nugroho) yang sudah jarang ada di jaman sekarang. Kedua, ini bisa dianggap sebagai karya seni yang sensasional karena sejauh ini saya belum pernah melihat ada film bioskop yang menyangkut agama lain yang mendapat respon sangat luar biasa dan bertahan sejauh ini, selain film menyangkut agama mayoritas yg ada di Indonesia. Ditambah antusiasme masyarakat utk menonton juga sangat tinggi, bisa dilihat dan dibuktikan di semua bioskop yg menayangkan film ini, pada pemutaran 3 (tiga) hari pertama di weekend semua tiket terjual habis SOLD OUT di semua jam tayangnya. WOW.....amazing! Bukti lain adalah, banyak orang, khususnya angkatan papa-mama dan oma-opa kita yang biasanya sudah jarang atau bahkan tidak pernah lagi nonton film di bioskop, tau-tau muncul di kursi penonton film ini ^_^
Efek samping positif juga bagi pasangan papa-mama dan oma-opa yang ikutan nonton bisa mengulang dan mengingat masa indah jaman dahulu saat berpacaran hehehe.... sweet memory bukan?! sweet...sweet....

Selain itu, saya juga salut bahwa sampai hari kelima pemutaran film Soegija, ternyata masih tetap full penonton juga di beberapa bioskop. Apalagi ketika saya melihat, bahwa ternyata diantara barisan penonton, banyak juga penonton beragama lain yang penasaran dan antusias dengan film ini. Ternyata bukti nyata ini sedikit mematahkan pendapat dan pemikiran saya belakangan ini yang merasa bahwa Bangsa Indonesia sudah tidak ber BHINNEKA TUNGGAL IKA lagi karena banyaknya kekerasan, kejahatan, dan ketidakadilan yg dilakukan atas nama agama. Ternyata masih ada sebagian orang yang berpikiran positif dan rasional, serta menerapkan nilai2 pendidikan moral dengan bersikap tenggang rasa terhadap agama dan kepercayaan lainnya.

Isi filmnya so far so good, ada sisi humornya juga karena kehadiran akting dari Mas Butet Kertarajasa, dan beberapa pemain lainnya. Selain itu, yang menarik juga adalah sisi musikalitas yg ditampilkan sepanjang film Soegija ini sangat menarik, dengan menghadirkan pemain orkes, choir, dan beberapa pemain yg bernyanyi lagu-lagu (jadoel, gereja, nasional) sangat menyegarkan suasana. Choir-nya kompak. Sementara utk karakter Uskup Soegija sendiri agak kurang mantab yah pendalaman karakternya, terlebih karena sang Uskup menghisap cerutu kurang mencerminkan pemuka agama yg baik (menurut saya loh ya...). Atau jangan2 kisah nyatanya memang menghisap cerutu ya? hehehe....

Tapi sayang sungguh sayang karena ternyata film Soegija ini mengalami pemotongan alias sensor dari LSF Indonesia sangat banyak, sehingga film yang tadinya berdurasi hampir 4 jam ini (menurut beberapa sumber), hanya tinggal sekitar 1 jam 45 menit saja. Sungguh disayangkan memang, mengingat isi cerita di tengah-tengah film menjadi agak aneh alias tidak nyambung (tidak jelas alur ceritanya). Contohnya: scene pada saat pertemuan antara Ling Ling dan mamanya. Akan lebih baik jika film ini tidak mengalami penyensoran karena film ini kan based on true story, it's a real story in past. Jadi, apa yang harus disensor? Seringkali LSF Indonesia terlalu subjektif dalam melakukan sensor film.

Saya sih sangat mengharapkan film Soegija ini dirilis ke dalam bentuk VCD atau DVD original dengan versi ASLI tanpa sensor dari LSF, sehingga kami dapat menikmati film ini dengan sempurna dan jelas alur ceritanya, sehingga pesan dari film inipun akan tergambar dengan jelas. Paling tidak kami mengharapkan kehadiran film Soegija versi un-cut pada kalangan khusus/tertentu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar