Tidak hanya pantai dan sunset, Bali juga memiliki banyak museum keren.
Inilah 5 museum keren di Bali yang kerap dikunjungi traveler, domestik
dan mancanegara. Ada koleksi-koleksi unik dan menarik di sana. Mau tahu?
Bali
adalah surganya traveler. Destinasi wisata seperti pantai menjadi
sajian utama dari Pulau Dewata ini. Selain itu, ternyata Bali juga
memiliki museum-museum keren dan tak kalah menarik. Disusun detikTravel,
Selasa (25/9/2012), berikut 5 museum keren di Bali:
1.
Museum Kerang, Kuta
Jika selama ini Anda melihat
kerang-kerang di lautan, maka di Bali Shell Museum atau Museum Kerang,
Anda akan melihat beraneka macam kerang dengan bentuk yang unik. Museum
yang beralamat di Jl Sunset Boulevard, Kuta ini juga menyimpan fosil
kerang berusia ratusan tahun!
Di museum seluas 1.500 m2 ini, Anda
bisa melihat ribuan jenis kerang. Museum ini pun menjadi satu-satunya
museum kerang yang terdapat di Indonesia. Museum ini dibagi menjadi tiga
lantai. Di lantai pertama terdapat lampu, pajangan dinding, sampai
pernak-pernik yang ditata apik dari bahan dasar kerang.
Di lantai
dua, ada koleksi kerang dalam berbagai ukuran dan umur. Eits,
kerang-kerang ini tak hanya diambil dari perairan Indonesia saja, tapi
juga seluruh dunia!
Yang paling terkenal, adalah fosil
Orthoceras, kerang panjang berbentuk pipih yang diperkirakan berumur 395
juta tahun. Wow! Di lantai tiga, ada museum biota laut yang berisi
fosil aneka jenis bulu babi, hiu, bintang laut, dan lain-lain.
2.
Museum Gunung Batur
Gunung Batur merupakan sisi lain
keindahan Bali. Dari wilayah Kintamani, Anda bisa makan siang sambil
menikmati pemandangan gunung dan danaunya. Tak hanya itu, Anda juga bisa
berkunjung ke Museum Gunung Batur untuk mengenal gunung api itu lebih
dekat.
Dengan tinggi mencapai 1.717 mdpl, Gunung Batur merupakan
salah satu gunung api yang masih aktif di Indonesia. Nah, Anda bisa
belajar banyak segala hal tentang gunung berapi di Museum Gunung Batur
di Taman Wisata Alam Penelokan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.
Di
dalam museum, terdapat aneka jenis batuan yang berasal dari gunung
berapi serta penjelasannya. Terdapat pula beberapa peralatan yang
digunakan ilmuwan untuk meneliti gunung berapi. Tak ketinggalan, ada
juga foto-foto Gunung Batur dan beberapa gunung berapi yang ada di
Indonesia.
Di dalam museum Anda juga dapat menonton film
dokumenter tentang perkembangan Gunung Batur dan sejarah letusannya.
Puas menonton film, Anda bisa melihat langsung Gunung Batur dengan
menggunakan teropong di ruang pengamatan. Museum ini buka hari kerja dan
harga tiket masuknya Rp 10.000. Museum Gunung Api Batur sering
dikunjungi oleh siswa-siswi sekolah dan sudah dikenal oleh kalangan
wisatawan mancanegara.
3. Museum Subak
Subak
adalah sebuah sistem irigasi yang didasari musyawarah di Bali. Dengan
adanya Subak, para petani mendapatkan jatah air dengan adil. Oleh sebab
itu, Subak ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia oleh
UNESCO pada bulan Mei 2012 lalu. Nah, Anda bisa mengenal Subak lebih
dekat di Museum Subak yang ada di Jl Jend Gatot Subroto, Kabupaten
Tabanan.
Museum ini terbagi dua, yaitu Museum Induk sebagai
sebuah kompleks yang punya dua gedung utama, yakni pusat informasi dan
gedung pameran. Selain itu ada pula Museum Terbuka adalah ketika Anda
melihat sendiri sawah yang terbentang luas, hasil dari sebuah tradisi
turun-temurun yakni Subak.
Di dua bangunan utama itu, Anda bisa
mengenal dan belajar segala hal yang berkaitan dengan pertanian di Bali.
Di sini terdapat pula miniatur Subak lengkap dengan proses
pembuatannya. Mulai dari tahap menemukan sumber mata air, membuat
terowongan air, hingga mengukur saluran irigasi.
Anda juga bisa
mengenal beragam alat pertanian tradisional. Ada alat pemotong dan
penumbuk padi, juga alat pembajak sawah. Bagi Anda yang ingin tahu lebih
banyak, perpustakaan pun tersedia untuk memuaskan dahaga akan
informasi.
4. Museum Puri Lukisan
Tidak
sedikit seniman handal yang menggambarkan keindahan Bali dalam suatu
lukisan. Jika Anda ingin melihat lukisan-lukisan menawan di Bali, datang
saja ke Museum Puri Lukisan di Jl Raya Ubud, Ubud. Dijamin akan
terkesan!
Museum yang memiliki 3 bangunan ini mengoleksi karya
dari seniman terkenal Bali seperti Ida Bagus Nyana, Ida Bagus Gelgel, I
Gusti Nyoman Lempad, Anak Agung Gde Sobrat, dan I Gusti Made Deblog.
Tidak hanya seni lukis, Anda juga bisa menikmati seni pahat yang ciamik.
Saat
memasuki museum ini, Anda seolah memasuki 'dunia Bali'. Ornamen-ornamen
khas Bali menghiasi tiap ruangan dan suasana Bali sungguh kental.
Lukisan para penari Bali yang cantik hingga pahatan-pahatan dewa, dapat
Anda temukan di sana.
Tak hanya itu, alunan musik Bali akan
menemani Anda sepanjang perjalanan. Museum Puri Lukisan juga memiliki
taman yang hijau nan asri. Karya-karya seniman yang menawan dibalut
dengan suasana yang harmonis. Sempurna!
5. Rumah Topeng
dan Boneka Setia Darma
Terletak tak jauh dari Ubud, ada
Rumah Topeng dan Boneka Setia Darma. Museum ini memiliki koleksi 1.200
topeng dan 4.700 boneka dari seluruh belahan dunia. Wow!
Dibangun
sejak tahun 2006, Rumah Topeng dan Boneka Setia Darma memiliki luas
sekitar satu hektar. Museum ini akan mengenalkan kepada Anda tentang
kebudayaan topeng dan boneka lebih dekat. Selain dari Indonesia, ribuan
koleksi di dalamnya juga berasal dari Afrika, Jepang, China, Malaysia,
Thailand, Myanmar, Kamboja, dan masih banyak lagi.
Museum ini
terdiri dari empat ruang pameran, lapangan terbuka, sebuah taman tropis
Bali dan panggung. Selain memajang koleksi ribuan topeng dan boneka,
museum ini juga sering dipakai untuk acara-acara bertemakan kebudayaan.
Seru!
Itulah 5 Museum keren di Bali yang wajib Anda datangi.
Selain koleksinya yang unik dan menarik, museum-museum ini akan membuat
Anda semakin cinta Bali.
I'll try to share everything, from light news, effusion, reviews, until hard news (maybe).
Welcoming
Hi pals...nice to meet u all here ^_^
Please feel free to search any info which u need.
Please feel free to search any info which u need.
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Rabu, 26 September 2012
Selasa, 31 Juli 2012
Mengenal Berbagai Jenis Ocha, Minuman Favorit di Negeri Sakura
Selama ini sebagian orang Indonesia mengonsumsi ocha hanya saat makan di
restoran Jepang. Sementara di negeri asalnya, ocha sudah menjadi
keseharian dan ternyata memiliki berbagai jenis. Yuk mengenal minuman
favorit di Negeri Sakura ini.
Wolipop melihat langsung bagaimana ocha dibuat dan pembudidayaannya dalam kunjungan ke Jepang Rabu (4/6/2012). Ocha sebenarnya bukan berasal dari Jepang. Seorang pendeta Budha datang dari China membawa daun teh hijau itu ke Jepang. Pendeta bernama Myoan Eisai itu kemudian menanamnya di Kyoto pada 1207.
Tidak seperti orang China yang menyebut teh dengan green tea, penduduk Jepang memilih menggunakan nama ocha untuk teh hijau. Nama ocha itu sendiri sebenarnya berarti teh. Ocha awalnya digunakan oleh para biksu sebagai bagian dari upacara keagamaan dan pengobatan.
Namun pada abad ke-15 dan 16, ocha mulai digemari raja, bangsawan dan samurai. Pada masa itu pun berkembang upacara minum teh. Keberadaan ocha semakin populer dengan adanya varian dari teh tersebut yaitu sencha. Di abad ke-17 dan 18, orang-orang Jepang sudah menjadikan ocha sebagai bagian dari keseharian atau gaya hidup.
Selain sencha ada banyak jenis ocha lainnya yang juga disukai orang Jepang. Sebelum mengenal varian dari ocha, yang perlu dipahami terlebih dulu adalah bagaimana proses pembubidayaan tanaman ocha tersebut di Negeri Sakura.
"Ocha akan semakin enak rasanya jika dihasilkan di wilayah yang memiliki perbedaan cuaca tinggi. Misalnya siang suhunya sekitar 30 derajat dan malam bisa belasan derajat. Perbedaan suhu yang tinggi ini biasanya ada di pegunungan," ujar Key Account Fukujuen, Tomoyuki Igarashi. Fukujuen merupakan salah satu perusahaan yang membeli ocha dari petani, untuk kemudian dijual ke berbagai perusahaan pembuat teh siap saji seperti Suntory.
Tomoyuki memberikan penjelasannya pada wolipop ketika ditemui di kawasan perkebunan ocha yang ada di Uji, Kyoto. Uji merupakan daerah yang memiliki banyak perkebunan teh. Selain di Uji, pembubidayaan ocha juga ada di Kagoshima dan Shizuoka. Namun ocha yang paling berkualitas berasal dari Uji, karena kawasan pegunungan akan menghasilkan teh yang lebih kaya rasa.
Ocha bisa memiliki warna hijau ketika sudah dibuat menjadi minuman karena dalam proses penanamannya, daun teh dihentikan oksidasinya. Daun teh yang mengalami oksidasi, biasanya akan diolah menjadi teh oolong dan hitam oleh masyarakat Jepang.
Pembudidayaan Ocha
Ocha itu sendiri dibudidayakan dengan dua cara berbeda. Pertama, kawasan perkebunan teh seluruhnya ditutup dengan terpal. Penutupan dilakukan agar ocha tidak terkena sinar matahari, sehingga kaya akan asam amino dan rasa teh tidak terlalu sepat karena mengandung umami. Cara kedua adalah dengan membiarkan semua daerah perkebunan terkena sinar matahari langsung. Metode ini menghasilkan teh yang mengandung banyak catechin (rasa sepet.
Dari perbedaan jenis pembudidayaan inilah yang kemudian melahirkan berbagai jenis ocha. Apa saja itu? Untuk teh yang pembudidayaannya dengan cara ditutup terpal seluruhnya, ada tiga jenis ocha yang bisa dihasilkan yaitu tencha (matcha), gyokuro dan kabuse-cha. Sementara untuk metode kedua, varian tehnya lebih banyak yaitu sencha, fukamushi-sencha, kamairi-sencha dan bancha.
Jenis-jenis Ocha
Matcha dan sencha merupakan dua jenis ocha yang cukup populer di Jepang. Matcha merupakan bubuk ocha yang dibuat dengan teknik tertentu menggunakan batu. Dulu matcha dikonsumsi orang hanya ketika upacara minum teh. Namun kini matcha sudah menjadi bagian hidup sehari-hari. Selain diminum dalam bentuk teh, matcha juga bisa ditemukan dalam es krim, kue, dan masakan lainnya.
Sementara untuk sencha, varian inilah yang paling banyak diproduksi di Jepang. Meski rasanya sepat karena banyak mengandung cathecin, orang-orang Jepang merasa setelah mengosumsi sencha menjadi lebih segar.
Selain sencha dan matcha, jenis lainnya dari ocha yang cukup menarik adalah houji-cha dan genmai-cja. Kedua teh tersebut termasuk sencha karena pembudidayaannya dibiarkan terkena sinar matahari langsung sehingga banyak mengandung cathecin. Namun untuk houji-cha dan genmai-cha, pengolahan dilakukan berbeda dengan sencha sehingga rasa yang dihasilkan juga tidak biasa. Houji-cha merupakan ocha yang dipanggang, sementara genmai-cha, adalah ocha campur dengan beras yang disangrai.
Ocha mana yang ingin dicoba? Anda bisa memilih sesuai selera, entah itu yang mengandung banyak umami atau justru yang sepat seperti sencha.
Wolipop melihat langsung bagaimana ocha dibuat dan pembudidayaannya dalam kunjungan ke Jepang Rabu (4/6/2012). Ocha sebenarnya bukan berasal dari Jepang. Seorang pendeta Budha datang dari China membawa daun teh hijau itu ke Jepang. Pendeta bernama Myoan Eisai itu kemudian menanamnya di Kyoto pada 1207.
Tidak seperti orang China yang menyebut teh dengan green tea, penduduk Jepang memilih menggunakan nama ocha untuk teh hijau. Nama ocha itu sendiri sebenarnya berarti teh. Ocha awalnya digunakan oleh para biksu sebagai bagian dari upacara keagamaan dan pengobatan.
Namun pada abad ke-15 dan 16, ocha mulai digemari raja, bangsawan dan samurai. Pada masa itu pun berkembang upacara minum teh. Keberadaan ocha semakin populer dengan adanya varian dari teh tersebut yaitu sencha. Di abad ke-17 dan 18, orang-orang Jepang sudah menjadikan ocha sebagai bagian dari keseharian atau gaya hidup.
Selain sencha ada banyak jenis ocha lainnya yang juga disukai orang Jepang. Sebelum mengenal varian dari ocha, yang perlu dipahami terlebih dulu adalah bagaimana proses pembubidayaan tanaman ocha tersebut di Negeri Sakura.
"Ocha akan semakin enak rasanya jika dihasilkan di wilayah yang memiliki perbedaan cuaca tinggi. Misalnya siang suhunya sekitar 30 derajat dan malam bisa belasan derajat. Perbedaan suhu yang tinggi ini biasanya ada di pegunungan," ujar Key Account Fukujuen, Tomoyuki Igarashi. Fukujuen merupakan salah satu perusahaan yang membeli ocha dari petani, untuk kemudian dijual ke berbagai perusahaan pembuat teh siap saji seperti Suntory.
Tomoyuki memberikan penjelasannya pada wolipop ketika ditemui di kawasan perkebunan ocha yang ada di Uji, Kyoto. Uji merupakan daerah yang memiliki banyak perkebunan teh. Selain di Uji, pembubidayaan ocha juga ada di Kagoshima dan Shizuoka. Namun ocha yang paling berkualitas berasal dari Uji, karena kawasan pegunungan akan menghasilkan teh yang lebih kaya rasa.
Ocha bisa memiliki warna hijau ketika sudah dibuat menjadi minuman karena dalam proses penanamannya, daun teh dihentikan oksidasinya. Daun teh yang mengalami oksidasi, biasanya akan diolah menjadi teh oolong dan hitam oleh masyarakat Jepang.
Pembudidayaan Ocha
Ocha itu sendiri dibudidayakan dengan dua cara berbeda. Pertama, kawasan perkebunan teh seluruhnya ditutup dengan terpal. Penutupan dilakukan agar ocha tidak terkena sinar matahari, sehingga kaya akan asam amino dan rasa teh tidak terlalu sepat karena mengandung umami. Cara kedua adalah dengan membiarkan semua daerah perkebunan terkena sinar matahari langsung. Metode ini menghasilkan teh yang mengandung banyak catechin (rasa sepet.
Dari perbedaan jenis pembudidayaan inilah yang kemudian melahirkan berbagai jenis ocha. Apa saja itu? Untuk teh yang pembudidayaannya dengan cara ditutup terpal seluruhnya, ada tiga jenis ocha yang bisa dihasilkan yaitu tencha (matcha), gyokuro dan kabuse-cha. Sementara untuk metode kedua, varian tehnya lebih banyak yaitu sencha, fukamushi-sencha, kamairi-sencha dan bancha.
Jenis-jenis Ocha
Matcha dan sencha merupakan dua jenis ocha yang cukup populer di Jepang. Matcha merupakan bubuk ocha yang dibuat dengan teknik tertentu menggunakan batu. Dulu matcha dikonsumsi orang hanya ketika upacara minum teh. Namun kini matcha sudah menjadi bagian hidup sehari-hari. Selain diminum dalam bentuk teh, matcha juga bisa ditemukan dalam es krim, kue, dan masakan lainnya.
Sementara untuk sencha, varian inilah yang paling banyak diproduksi di Jepang. Meski rasanya sepat karena banyak mengandung cathecin, orang-orang Jepang merasa setelah mengosumsi sencha menjadi lebih segar.
Selain sencha dan matcha, jenis lainnya dari ocha yang cukup menarik adalah houji-cha dan genmai-cja. Kedua teh tersebut termasuk sencha karena pembudidayaannya dibiarkan terkena sinar matahari langsung sehingga banyak mengandung cathecin. Namun untuk houji-cha dan genmai-cha, pengolahan dilakukan berbeda dengan sencha sehingga rasa yang dihasilkan juga tidak biasa. Houji-cha merupakan ocha yang dipanggang, sementara genmai-cha, adalah ocha campur dengan beras yang disangrai.
Ocha mana yang ingin dicoba? Anda bisa memilih sesuai selera, entah itu yang mengandung banyak umami atau justru yang sepat seperti sencha.
Jumat, 15 Juni 2012
Soegija
Siapa bilang Seniman itu tidak religius? Film Soegija membuktikan bahwa
seniman itu memiliki rasa religiusitas yang tinggi. Para seniman
mempunyai caranya sendiri untuk mengungkapkan imannya kepada Sang
Pencipta. Dengan anugerah kreatifitas dari Sang Maha Kreatif inilah
mereka menjadi co-creator di dunia bunyi, dunia imajinasi, dan dunia
rasa merasa.
Synopsis:
Film ini ingin melukiskan kisah-kisah kemanusiaan di masa perang kemerdekaaan bangsa Indonesia (1940-1949). Adalah Soegija (diperankan Nirwan Dewanto) yang diangkat menjadi uskup pribumi dalam Gereja Katolik Indonesia. Baginya kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal-usul, dan ragamnya.
Dan perang adalah kisah terpecahnya keluarga besar manusia. Ketika Jepang datang ke Indonesia (1942), Mariyem ( Annisa Hertami) terpisah dari Maryono (Abe), kakaknya. Ling Ling (Andrea Reva) terpisah dari ibunya (Olga Lydia).
Tampaknya keterpisahan itu tidak hanya dialami oleh orang-orang yang terjajah, tetapi juga oleh para penjajah. Nobuzuki (Suzuki), seorang tentara Jepang dan penganut Budhist, ia tidak pernah tega terhadap anak-anak, karena ia juga punya anak di Jepang. Robert ( Wouter Zweers), seorang tentara Belanda yang selalu merasa jadi mesin perang yang hebat, akhirnya juga disentuh hatinya oleh bayi tak berdosa yang ia temukan di medan perang. Ia pun rindu pulang, ia rindu Ibunya.
Di tengah perang pun Hendrick (Wouter Braaf) menemukan cintanya yang tetap tak mampu ia miliki karena perang. Soegija ingin menyatukan kembali kisah-kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang sudah terkoyak oleh kekerasan perang dan kematian.
Komen sebagai penonton:
Kesan pertama, saya sangat takjub dan antusias melihat animo masyarakat yang tinggi terhadap film "special" ini. Umat Katolik khususnya, yang memang sangat diharapkan utk menonton, serta umat agama lain yg ternyata juga lumayan banyak yang mau ikutan nonton juga.
Kenapa saya bilang film bioskop ini "special"?
Pertama, karena ini adalah salah satu film berkualitas karya asli anak Indonesia (Sutradara by Garin Nugroho) yang sudah jarang ada di jaman sekarang. Kedua, ini bisa dianggap sebagai karya seni yang sensasional karena sejauh ini saya belum pernah melihat ada film bioskop yang menyangkut agama lain yang mendapat respon sangat luar biasa dan bertahan sejauh ini, selain film menyangkut agama mayoritas yg ada di Indonesia. Ditambah antusiasme masyarakat utk menonton juga sangat tinggi, bisa dilihat dan dibuktikan di semua bioskop yg menayangkan film ini, pada pemutaran 3 (tiga) hari pertama di weekend semua tiket terjual habis SOLD OUT di semua jam tayangnya. WOW.....amazing! Bukti lain adalah, banyak orang, khususnya angkatan papa-mama dan oma-opa kita yang biasanya sudah jarang atau bahkan tidak pernah lagi nonton film di bioskop, tau-tau muncul di kursi penonton film ini ^_^
Efek samping positif juga bagi pasangan papa-mama dan oma-opa yang ikutan nonton bisa mengulang dan mengingat masa indah jaman dahulu saat berpacaran hehehe.... sweet memory bukan?! sweet...sweet....
Selain itu, saya juga salut bahwa sampai hari kelima pemutaran film Soegija, ternyata masih tetap full penonton juga di beberapa bioskop. Apalagi ketika saya melihat, bahwa ternyata diantara barisan penonton, banyak juga penonton beragama lain yang penasaran dan antusias dengan film ini. Ternyata bukti nyata ini sedikit mematahkan pendapat dan pemikiran saya belakangan ini yang merasa bahwa Bangsa Indonesia sudah tidak ber BHINNEKA TUNGGAL IKA lagi karena banyaknya kekerasan, kejahatan, dan ketidakadilan yg dilakukan atas nama agama. Ternyata masih ada sebagian orang yang berpikiran positif dan rasional, serta menerapkan nilai2 pendidikan moral dengan bersikap tenggang rasa terhadap agama dan kepercayaan lainnya.
Isi filmnya so far so good, ada sisi humornya juga karena kehadiran akting dari Mas Butet Kertarajasa, dan beberapa pemain lainnya. Selain itu, yang menarik juga adalah sisi musikalitas yg ditampilkan sepanjang film Soegija ini sangat menarik, dengan menghadirkan pemain orkes, choir, dan beberapa pemain yg bernyanyi lagu-lagu (jadoel, gereja, nasional) sangat menyegarkan suasana. Choir-nya kompak. Sementara utk karakter Uskup Soegija sendiri agak kurang mantab yah pendalaman karakternya, terlebih karena sang Uskup menghisap cerutu kurang mencerminkan pemuka agama yg baik (menurut saya loh ya...). Atau jangan2 kisah nyatanya memang menghisap cerutu ya? hehehe....
Tapi sayang sungguh sayang karena ternyata film Soegija ini mengalami pemotongan alias sensor dari LSF Indonesia sangat banyak, sehingga film yang tadinya berdurasi hampir 4 jam ini (menurut beberapa sumber), hanya tinggal sekitar 1 jam 45 menit saja. Sungguh disayangkan memang, mengingat isi cerita di tengah-tengah film menjadi agak aneh alias tidak nyambung (tidak jelas alur ceritanya). Contohnya: scene pada saat pertemuan antara Ling Ling dan mamanya. Akan lebih baik jika film ini tidak mengalami penyensoran karena film ini kan based on true story, it's a real story in past. Jadi, apa yang harus disensor? Seringkali LSF Indonesia terlalu subjektif dalam melakukan sensor film.
Saya sih sangat mengharapkan film Soegija ini dirilis ke dalam bentuk VCD atau DVD original dengan versi ASLI tanpa sensor dari LSF, sehingga kami dapat menikmati film ini dengan sempurna dan jelas alur ceritanya, sehingga pesan dari film inipun akan tergambar dengan jelas. Paling tidak kami mengharapkan kehadiran film Soegija versi un-cut pada kalangan khusus/tertentu.
Synopsis:
Film ini ingin melukiskan kisah-kisah kemanusiaan di masa perang kemerdekaaan bangsa Indonesia (1940-1949). Adalah Soegija (diperankan Nirwan Dewanto) yang diangkat menjadi uskup pribumi dalam Gereja Katolik Indonesia. Baginya kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal-usul, dan ragamnya.
Dan perang adalah kisah terpecahnya keluarga besar manusia. Ketika Jepang datang ke Indonesia (1942), Mariyem ( Annisa Hertami) terpisah dari Maryono (Abe), kakaknya. Ling Ling (Andrea Reva) terpisah dari ibunya (Olga Lydia).
Tampaknya keterpisahan itu tidak hanya dialami oleh orang-orang yang terjajah, tetapi juga oleh para penjajah. Nobuzuki (Suzuki), seorang tentara Jepang dan penganut Budhist, ia tidak pernah tega terhadap anak-anak, karena ia juga punya anak di Jepang. Robert ( Wouter Zweers), seorang tentara Belanda yang selalu merasa jadi mesin perang yang hebat, akhirnya juga disentuh hatinya oleh bayi tak berdosa yang ia temukan di medan perang. Ia pun rindu pulang, ia rindu Ibunya.
Di tengah perang pun Hendrick (Wouter Braaf) menemukan cintanya yang tetap tak mampu ia miliki karena perang. Soegija ingin menyatukan kembali kisah-kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang sudah terkoyak oleh kekerasan perang dan kematian.
Komen sebagai penonton:
Kesan pertama, saya sangat takjub dan antusias melihat animo masyarakat yang tinggi terhadap film "special" ini. Umat Katolik khususnya, yang memang sangat diharapkan utk menonton, serta umat agama lain yg ternyata juga lumayan banyak yang mau ikutan nonton juga.
Kenapa saya bilang film bioskop ini "special"?
Pertama, karena ini adalah salah satu film berkualitas karya asli anak Indonesia (Sutradara by Garin Nugroho) yang sudah jarang ada di jaman sekarang. Kedua, ini bisa dianggap sebagai karya seni yang sensasional karena sejauh ini saya belum pernah melihat ada film bioskop yang menyangkut agama lain yang mendapat respon sangat luar biasa dan bertahan sejauh ini, selain film menyangkut agama mayoritas yg ada di Indonesia. Ditambah antusiasme masyarakat utk menonton juga sangat tinggi, bisa dilihat dan dibuktikan di semua bioskop yg menayangkan film ini, pada pemutaran 3 (tiga) hari pertama di weekend semua tiket terjual habis SOLD OUT di semua jam tayangnya. WOW.....amazing! Bukti lain adalah, banyak orang, khususnya angkatan papa-mama dan oma-opa kita yang biasanya sudah jarang atau bahkan tidak pernah lagi nonton film di bioskop, tau-tau muncul di kursi penonton film ini ^_^
Efek samping positif juga bagi pasangan papa-mama dan oma-opa yang ikutan nonton bisa mengulang dan mengingat masa indah jaman dahulu saat berpacaran hehehe.... sweet memory bukan?! sweet...sweet....
Selain itu, saya juga salut bahwa sampai hari kelima pemutaran film Soegija, ternyata masih tetap full penonton juga di beberapa bioskop. Apalagi ketika saya melihat, bahwa ternyata diantara barisan penonton, banyak juga penonton beragama lain yang penasaran dan antusias dengan film ini. Ternyata bukti nyata ini sedikit mematahkan pendapat dan pemikiran saya belakangan ini yang merasa bahwa Bangsa Indonesia sudah tidak ber BHINNEKA TUNGGAL IKA lagi karena banyaknya kekerasan, kejahatan, dan ketidakadilan yg dilakukan atas nama agama. Ternyata masih ada sebagian orang yang berpikiran positif dan rasional, serta menerapkan nilai2 pendidikan moral dengan bersikap tenggang rasa terhadap agama dan kepercayaan lainnya.
Isi filmnya so far so good, ada sisi humornya juga karena kehadiran akting dari Mas Butet Kertarajasa, dan beberapa pemain lainnya. Selain itu, yang menarik juga adalah sisi musikalitas yg ditampilkan sepanjang film Soegija ini sangat menarik, dengan menghadirkan pemain orkes, choir, dan beberapa pemain yg bernyanyi lagu-lagu (jadoel, gereja, nasional) sangat menyegarkan suasana. Choir-nya kompak. Sementara utk karakter Uskup Soegija sendiri agak kurang mantab yah pendalaman karakternya, terlebih karena sang Uskup menghisap cerutu kurang mencerminkan pemuka agama yg baik (menurut saya loh ya...). Atau jangan2 kisah nyatanya memang menghisap cerutu ya? hehehe....
Tapi sayang sungguh sayang karena ternyata film Soegija ini mengalami pemotongan alias sensor dari LSF Indonesia sangat banyak, sehingga film yang tadinya berdurasi hampir 4 jam ini (menurut beberapa sumber), hanya tinggal sekitar 1 jam 45 menit saja. Sungguh disayangkan memang, mengingat isi cerita di tengah-tengah film menjadi agak aneh alias tidak nyambung (tidak jelas alur ceritanya). Contohnya: scene pada saat pertemuan antara Ling Ling dan mamanya. Akan lebih baik jika film ini tidak mengalami penyensoran karena film ini kan based on true story, it's a real story in past. Jadi, apa yang harus disensor? Seringkali LSF Indonesia terlalu subjektif dalam melakukan sensor film.
Saya sih sangat mengharapkan film Soegija ini dirilis ke dalam bentuk VCD atau DVD original dengan versi ASLI tanpa sensor dari LSF, sehingga kami dapat menikmati film ini dengan sempurna dan jelas alur ceritanya, sehingga pesan dari film inipun akan tergambar dengan jelas. Paling tidak kami mengharapkan kehadiran film Soegija versi un-cut pada kalangan khusus/tertentu.
Label:
film,
gereja ; agama,
history,
movie,
sejarah
Jumat, 09 Desember 2011
History of Batik
ETIMOLOGI
Kata "batik" berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik".
SEJARAH TEKNIK BATIK
Seni pewarnaan kain dengan teknik pencegahan pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.[2]. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.[3]
Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. [2]Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.[4]
G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.[4] Detil ukiran kain yang menyerupai pola batik dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur abad ke-13. Detil pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya dapat dibuat dengan canting telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.
Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa.[5] Oleh beberapa penafsir,who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik.
Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.[2]
Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke Persekutuan Malaya juga membawa batik bersama mereka.
BUDAYA BATIK
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.
Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.
CORAK BATIK
Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga memopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.MOTIF DAN FILOSOFI KAIN BATIK
Motif Batik Kawung
Motif batik kawung mempunyai makna yang melambangkan harapan agar manusia selalu ingat akan asal-usulnya.
Mengenakan batik kawung mencerminkan pribadinya sebagai seorang pemimpin yang mampu mengendalikan hawa nafsu serta menjaga hati nurani agar ada keseimbangan dalam perilaku kehidupan manusia.
Dari perpektif historis, motif batik kawung awalnya hasil dari stylisasi kolang kaling atau buah aren, yang bentuk dasarnya dibuat empat lingkaran oval. Posisi empat lingkaran elips tersebut sengaja diatur menyentuh satu dengan yang lain secara semetris, sehingga menimbulkan ilusi optic berupa bunga empat kelopak.
Secara umum makna filosofis Batik Kawung berawal dari buah sebagai simbolisasi harapan dan kesuburan. Lalu, aren sebagai penghasil gula bermakna keagungan dan kebijaksanaan. Pohon aren yang lurus tanpa cabang melambangkan keadilan. Jadi, silmbolisasi flora aren dalam Batik Kawung bermakna filosofis tentang harapan terwujudnya kekuasaan yang adil dan bijaksana.
Sedangkan empat unsur bunga kawung yang saling beririsan secara semetris dengan menyisakan ruang kosong dtiitik pusat, disebut kiblat 4 lima pancer. Falsafah adiluhung Jawa ini bermakna memandang dari 4 perspektif mata angin guna mendapatkan cahaya (pancer) kebijaksanaan.
Motif Kawung Sen
Ada banyak ragam motif batik kawung, salah satunya adalah batik kawung sen yang diambil dari nama pecahan satu sen.Makna corak ini adalah bahwa kehidupan ini akan kembali kepada alam sawung. Maka didalam tradisi dahulu motif ini dipakai untuk penutup orang meninggal.Motif Batik Parang
Motif batik parang pada dasarnya tergolong sederhana,berupa lilitan leter S yang jalin-menjalin membentuk garis diagonal dengan kemiringan 45 derajat.Namun,filosofi yang terkandung di dalamnya tidak sesederhana motifnya.Ada ajaran-ajaran keutamaan yang terkandung di dalamnya. Parang berasal dari kata pereng, yang berarti lereng. Perengan menggambarkan sebuah garis menurun dari tinggi ke rendah secara diagonal. Susunan motif leter S jalin-menjalin tidak terputus melambangkan keseimbangan.Bentuk dasar leter S diambil dari ombak samudra yang menggambarkan semangat tidak pernah padam.
Batik parang memiliki nilai filosofis yang sangat tinggi berupa petuah agar tidak pernah menyerah sebagaimana ombak laut yang tak pernah berhenti bergerak. Batik parang pun mengambarkan jalinan yang tidak pernah putus,baik itu dalam arti upaya memperbaiki diri, upaya memperjuangkan kesejahteraan, maupun bentuk pertalian keluarga dimana batik parang di masa lalu merupakan hadiah dari bangsawan kepada anak-anaknya. Motif parang secara eksplisit memiliki makna kecerdasan. Sangat jarang motif parang digunakan untuk upacara pernikahan. Apabila digunakan sebagai busana pengantin,kalangan masyarakat Jawa menganggap dengan menggunakan motif parang sebagai busana pernikahan akan menyebabkan rumah tangganya dipenuhi percekcokan.
Garis lurus diagonal melambangkan rasa hormat dan keteladanan,serta kesetiaan pada nilai-nilai kebenaran.Aura dinamis dalam motif ini juga mengajarkan kecekatan, kesigapan, dan kesinambungan antara satu pekerjaan dengan pekerjaan lainnya. Artinya, tidak ada kata berhenti. Begitu menyelesaikan satu pekerjaan, segeralah berlanjut pada pekerjaan berikutnya.
Motif batik sidomukti
Motif batik sidomukti mengandung makna kemakmuran. Demikianlah bagi orang Jawa, hidup yang didambakan selain keluhuran budi, ucapan dan tindakan, tentu agar hidup akhirnya dapat mencapai mukti atau makmur baik di dunia maupun di akhirat.
Motif sido mukti biasanya dipakai oleh perngantin pria dan wanita pada acara pernikahan, dinamakan juga sebagai sawitan ( sepasang ). Sido berarti terus menerus atau menjadi dan Mukti berarti hidup dalam berkecukupan dan kebahagiaan, jadi dapat disimpulkan motif ini melambangkan harapan akan masa depan yang baik, penuh kebahagiaan untuk kedua mempelai.
Motif lain Sido MuktiMotif batik mega mendung
Sejarah timbulnya motif mega mendung yang diadopsi oleh masyarakat Cirebon,bahwa Sunan Gunungjati menikahi Ratu Ong Tien dari negeri China. Beberapa benda seni yang dibawa dari negeri China diantaranya adalah keramik, piring, kain yang berhias bentuk awan. Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas,bebas dan mempunyai makna transidental ( Ketuhanan ). Konsep mengenai awan ini juga digunakan oleh kaum Sufi untuk ungkapan dunia besar atau alam bebas.
Pada bentuk mega mendung bisa kita lihat garis lengkung yang beraturan secara teratur dari bentuk garis lengkung yang paling dalam ( mengecil ) kemudian melebar keluar ( membesar ) menunjukkan gerak yang teratur harmonis. Garis lengkung yang beraturan ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah ( naik dan turun ) kemudian berkembang keluar untuk mencari jati diri ( belajar/menjalani kehidupan sosial agama ) dan pada akhirnya membawa dirinya mem,asuki dunia baru menuju kembali kedalam penyatuan diri setelah melalui pasang surut ( naik dan turun ) pada akhirnya kembali ke asalnya.
Unsur warna biru yang kita kenal dengan melambangkan warna langit yang begitu luas, bersahabat dan tenang, ada yang mengartikan bahwa biru melambangkan kesuburan sehingga warna batik megamendung pada awalnya selalu memberikan unsur warna biru diselingi dengan warna merah.Gambar batik khas Mojokerto
![]() |
| Motif Mrico Bolong |
![]() |
| Koro Renteng |
CARA PEMBUATAN
Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.JENIS BATIK
MENURUT TEKNIK
![]() |
| cara pembuatan batik cap |
- Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
- Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.
- Batik lukis adalah proses pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada kain putih.
MENURUT ASAL PEMBUATAN
- Batik Jawa
- batik Jawa adalah sebuah warisan kesenian budaya orang Indonesia, khususnya daerah Jawa yang dikuasai orang Jawa dari turun temurun. Batik Jawa mempunyai motif-motif yang berbeda-beda. Perbedaan motif ini biasa terjadi dikarnakan motif-motif itu mempunyai makna, maksudnya bukan hanya sebuah gambar akan tetapi mengandung makna yang mereka dapat dari leluhur mereka, yaitu penganut agama animisme, dinamisme atau Hindu dan Buddha. Batik jawa banyak berkembang di daerah Solo atau yang biasa disebut dengan batik Solo.
TIPS DAN TRIK MERAWAT BATIK
Ada beberapa hal yang perlu diperhatiakan agar busana atau kain batik tetap indah, diantaranya adalah sebagai berikut :
- 1. Mencuci kain batik dengan menggunakan shampo rambut. Sebelumnya,larutkan dulu shampo hingga tidak ada lagi bagian yang mengental. Setelah itu baru celupkan kain batik atau busana anda. Selain shampo rambut bisa juga menggunakan sabun pencuci khusus batik yang beredar di pasaran.
- 2. Pada saat mencuci batik jangan digosok atau disikat.Jika batik tidak terlalu kotor maka cucilah dengan menggunakan air hangat. Jika batik terkena noda cukup mencucinya dengan sabun mandi saja, akan tetapi apabila nodanya membandel dapat menggunakan kulit jeruk yang digosokkan pada noda membandel saja. Jangan memcuci batik dengan menggunakan mesin cuci.
- 3. Setelah kotoran hilang batik dijemur di tempat yang teduh dan tidak perlu diperas.
- 4. Hindari menyetrika secara langsung, jika terlalu kusut bisa semprotkan air pada batik kemudian lapisi batik dengan menggunakan kain yang berbeda. Hal ini untuk menghindari batik dari panas langsung setrikaan.
- 5. Bila ingin memberi pewangi dan pelembut pada batik tulis jangan langsung disemprotkan pada kainnya.Tutupi dulu kain dengan koran, lalu semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain. Sebaikknya tidak perlu menyemprotkan parfum ke kain atau pakaian berbahan batik sutra berpewarna alami.
- 6. Sesudah disetrika sebaiknya simpan batik didalam plastik agar tidak dimakan ngengat dan jangan di beri kamper atau kapur barus karena terlalu keras sehingga dapat merusak batik. Ada baiknya diberi merica atau lada yang dibungkus tisu lalu masukkan dalam lemari pakaian untuk mengusir ngengat, atau dapat juga menggunakan akar wangi yang dicelupkan dalam air panas kemudian dijemur sampai kering lalu dicelupkan lagi dalam air panas dan jemur sampai kering.Setelah akar wangi tersebut kering baru dapat digunakan sebagai pengganti kamper atau kapur barus.
(from: Wikipedia dan http://aisheyoenie.blogspot.com/2011/04/batik-indonesia.html)
Langganan:
Postingan (Atom)









