Welcoming

Hi pals...nice to meet u all here ^_^
Please feel free to search any info which u need.


Tampilkan postingan dengan label gereja ; agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gereja ; agama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Juni 2012

Soegija

Siapa bilang Seniman itu tidak religius? Film Soegija membuktikan bahwa seniman itu memiliki rasa religiusitas yang tinggi. Para seniman mempunyai caranya sendiri untuk mengungkapkan imannya kepada Sang Pencipta. Dengan anugerah kreatifitas dari Sang Maha Kreatif inilah mereka menjadi co-creator di dunia bunyi, dunia imajinasi, dan dunia rasa merasa.

Synopsis:
Film ini ingin melukiskan kisah-kisah kemanusiaan di masa perang kemerdekaaan bangsa Indonesia (1940-1949). Adalah Soegija (diperankan Nirwan Dewanto) yang diangkat menjadi uskup pribumi dalam Gereja Katolik Indonesia. Baginya kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal-usul, dan ragamnya.

Dan perang adalah kisah terpecahnya keluarga besar manusia. Ketika Jepang datang ke Indonesia (1942), Mariyem ( Annisa Hertami) terpisah dari Maryono (Abe), kakaknya. Ling Ling (Andrea Reva) terpisah dari ibunya (Olga Lydia).

Tampaknya keterpisahan itu tidak hanya dialami oleh orang-orang yang terjajah, tetapi juga oleh para penjajah. Nobuzuki (Suzuki), seorang tentara Jepang dan penganut Budhist, ia tidak pernah tega terhadap anak-anak, karena ia juga punya anak di Jepang. Robert ( Wouter Zweers), seorang tentara Belanda yang selalu merasa jadi mesin perang yang hebat, akhirnya juga disentuh hatinya oleh bayi tak berdosa yang ia temukan di medan perang. Ia pun rindu pulang, ia rindu Ibunya.

Di tengah perang pun Hendrick (Wouter Braaf) menemukan cintanya yang tetap tak mampu ia miliki karena perang. Soegija ingin menyatukan kembali kisah-kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang sudah terkoyak oleh kekerasan perang dan kematian.

Komen sebagai penonton:
 Kesan pertama, saya sangat takjub dan antusias melihat animo masyarakat yang tinggi terhadap film "special" ini. Umat Katolik khususnya, yang memang sangat diharapkan utk menonton, serta umat agama lain yg ternyata juga lumayan banyak yang mau ikutan nonton juga.

Kenapa saya bilang film bioskop ini "special"?
Pertama, karena ini adalah salah satu film berkualitas karya asli anak Indonesia (Sutradara by Garin Nugroho) yang sudah jarang ada di jaman sekarang. Kedua, ini bisa dianggap sebagai karya seni yang sensasional karena sejauh ini saya belum pernah melihat ada film bioskop yang menyangkut agama lain yang mendapat respon sangat luar biasa dan bertahan sejauh ini, selain film menyangkut agama mayoritas yg ada di Indonesia. Ditambah antusiasme masyarakat utk menonton juga sangat tinggi, bisa dilihat dan dibuktikan di semua bioskop yg menayangkan film ini, pada pemutaran 3 (tiga) hari pertama di weekend semua tiket terjual habis SOLD OUT di semua jam tayangnya. WOW.....amazing! Bukti lain adalah, banyak orang, khususnya angkatan papa-mama dan oma-opa kita yang biasanya sudah jarang atau bahkan tidak pernah lagi nonton film di bioskop, tau-tau muncul di kursi penonton film ini ^_^
Efek samping positif juga bagi pasangan papa-mama dan oma-opa yang ikutan nonton bisa mengulang dan mengingat masa indah jaman dahulu saat berpacaran hehehe.... sweet memory bukan?! sweet...sweet....

Selain itu, saya juga salut bahwa sampai hari kelima pemutaran film Soegija, ternyata masih tetap full penonton juga di beberapa bioskop. Apalagi ketika saya melihat, bahwa ternyata diantara barisan penonton, banyak juga penonton beragama lain yang penasaran dan antusias dengan film ini. Ternyata bukti nyata ini sedikit mematahkan pendapat dan pemikiran saya belakangan ini yang merasa bahwa Bangsa Indonesia sudah tidak ber BHINNEKA TUNGGAL IKA lagi karena banyaknya kekerasan, kejahatan, dan ketidakadilan yg dilakukan atas nama agama. Ternyata masih ada sebagian orang yang berpikiran positif dan rasional, serta menerapkan nilai2 pendidikan moral dengan bersikap tenggang rasa terhadap agama dan kepercayaan lainnya.

Isi filmnya so far so good, ada sisi humornya juga karena kehadiran akting dari Mas Butet Kertarajasa, dan beberapa pemain lainnya. Selain itu, yang menarik juga adalah sisi musikalitas yg ditampilkan sepanjang film Soegija ini sangat menarik, dengan menghadirkan pemain orkes, choir, dan beberapa pemain yg bernyanyi lagu-lagu (jadoel, gereja, nasional) sangat menyegarkan suasana. Choir-nya kompak. Sementara utk karakter Uskup Soegija sendiri agak kurang mantab yah pendalaman karakternya, terlebih karena sang Uskup menghisap cerutu kurang mencerminkan pemuka agama yg baik (menurut saya loh ya...). Atau jangan2 kisah nyatanya memang menghisap cerutu ya? hehehe....

Tapi sayang sungguh sayang karena ternyata film Soegija ini mengalami pemotongan alias sensor dari LSF Indonesia sangat banyak, sehingga film yang tadinya berdurasi hampir 4 jam ini (menurut beberapa sumber), hanya tinggal sekitar 1 jam 45 menit saja. Sungguh disayangkan memang, mengingat isi cerita di tengah-tengah film menjadi agak aneh alias tidak nyambung (tidak jelas alur ceritanya). Contohnya: scene pada saat pertemuan antara Ling Ling dan mamanya. Akan lebih baik jika film ini tidak mengalami penyensoran karena film ini kan based on true story, it's a real story in past. Jadi, apa yang harus disensor? Seringkali LSF Indonesia terlalu subjektif dalam melakukan sensor film.

Saya sih sangat mengharapkan film Soegija ini dirilis ke dalam bentuk VCD atau DVD original dengan versi ASLI tanpa sensor dari LSF, sehingga kami dapat menikmati film ini dengan sempurna dan jelas alur ceritanya, sehingga pesan dari film inipun akan tergambar dengan jelas. Paling tidak kami mengharapkan kehadiran film Soegija versi un-cut pada kalangan khusus/tertentu.

Kamis, 26 April 2012

Gereja : BUSANA LITURGI IMAM DAN WARNA LITURGI

Setiap mengikuti perayaan ekaristi, kita selalu melihat Pakaian dan warna yang dikenakan imam yang berperan sebagai In Persona Christi dalam memimpin ekaristi. Pakaian yang rata-rata orang menyebutnya dengan istilah "JUBAH" (meskipun sebenarnya bukan...) terdiri dari beberapa lapis dan beberapa bagian, di mana masing-masing bagian memiliki makna dan memiliki tata cara dengan doa saat imam mengenakannya.

Setelah disahkannya kekristenan pada tahun 313M, Gereja terus menyempurnakan “siapa mengenakan apa, bilamana, dan bagaimana” hingga sekitar tahun 800 ketika norma-norma liturgis perihal busana pada dasarnya distandarisasi dan tetap sama hingga pembaharuan sesudah Konsili Vatikan Kedua. Untuk itu marilah kita lihat bersama terdiri dari apa saja pakaian yang dikenakan imam saat memimpin ekaristi satu persatu.



1) ALBA (Citra Kekudusan)

Alba adalah pakaian putih panjang hingga sebatas pergelangan kaki, dan memiliki lengan panjang hingga pergelangan tangan. Kata alba dalam bahasa Latin artinya “putih”.

Alba adalah pakaian luar yang umum dikenakan di kalangan Graeco-Romawi dan mirip dengan soutane yang dikenakan di Timur Tengah. Tetapi, mereka yang berwenang mengenakan alba dengan kualitas yang lebih ba...ik dengan aneka sulaman atau gambar. Beberapa alba modern memiliki kerah sehingga amik tidak diperlukan lagi.

Tujuan rohani alba adalah mengingatkan imam akan pembaptisannya, saat kain putih diselubungkan padanya guna melambangkan kemerdekaannya dari dosa, kemurnian hidup baru, dan martabat Kristiani. Di samping itu, Kitab Wahyu menggambarkan para kudus yang berdiri sekeliling altar Anak Domba di surga sebagai “Orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba” (7:14).

Demikian pula imam wajib mempersembahkan Misa dengan kemurnian tubuh dan jiwa, dan dengan kelayakan martabat imamat Kristus. Di beberapa negara tropis, termasuk Indonesia, jika tidak ada alba, maka dapat dipakai jubah yang berwarna putih.

Doa ketika mengenakan alba:
“Sucikanlah aku, ya Tuhan, dan bersihkanlah hatiku, agar aku boleh menikmati kebahagiaan kekal karena telah dibasuh dalam darah Anak Domba.”



2) AMIK (Tanda Perlindungan)
Selembar kain lenan putih berbentuk segi empat dengan dua tali panjang di dua ujungnya, dikenakan sekeliling leher, menutupi bahu dan pundak, menyilangkan kedua tali di depan (membentuk salib St Andreas), lalu membawa tali ke belakang punggung, melilitkannya sekeliling pinggang dan mengikatkannya dengan suatu simpul.

Tujuan praktis amik adalah untuk menutupi jubah ...biasa imam, dan untuk menyerap keringat dari kepala dan leher. Di kalangan Graeco-Romawi, amik adalah penutup kepala, seringkali dikenakan di bawah topi baja para prajurit Romawi untuk menyerap keringat, dengan demikian mencegah keringat menetes ke mata.

Tujuan rohani amik adalah mengingatkan imam akan nasehat St Paulus, “Terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah” (Ef 6:17).

Doa Imam ketika mengenakan amik:
“Tuhan, letakkanlah pelindung keselamatan pada kepalaku untuk menangkis segala serangan setan.”




3) SINGEL (Tali Kesucian)

Singel adalah tali yang tebal dan panjang dengan jumbai-jumbai pada kedua ujungnya, yang diikatkan sekeliling pinggang untuk mengencangkan / merapikan alba. Singel merupakan simbol nilai kemurnian hati dan pengekangan diri. Singel dapat berwarna putih atau sesuai dengan warna masa liturginya. Di kalangan Graeco-Romawi, singel adalah bagaikan ikat pinggang.

Tujuan roh...ani singel adalah mengingatkan imam akan nasehat St Petrus, “Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu” (1 Pet 1:13-15).

Doa ketika mengenakan singel:
“Tuhan, kuatkanlah aku dengan tali kesucian ini dan padamkanlah hasrat ragawiku, agar kebajikan pengekangan diri dan kemurnian hati dapat tinggal dalam diriku.”



4) KASULA (Lambang Cinta dan Pengorbanan)

Kasula, disebut juga planeta, adalah pakaian luar yang dikenakan di atas alba dan stola. Kasula merupakan busana khas imam, khususnya selebran dan konselebran utama, yang dipakai untuk memimpin Perayaan Ekaristi. Kasula melambangkan keutamaan cinta kasih dan ketulusan untuk melaksanakan tugas yang penuh pengorbanan diri bagi Tuhan.

Selama berabad-abad mode...l kasula telah mengalami beberapa perubahan dan variasi. Kasula berasal dari kata Latin “casula” yang artinya “rumah”; kasula di kalangan Graeco-Romawi serupa sebuah mantol tanpa lengan yang sepenuhnya menutupi tubuh dan melindungi si pemakai dari cuaca buruk. Tujuan rohani kasula adalah mengingatkan imam akan kasih dan pengurbanan Kristus, “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kol 3:14).

Doa ketika mengenakan kasula:
“Ya Tuhan, Engkau pernah bersabda: `kuk yang Ku-pasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.' Buatlah aku sanggup mengenakan pakaian ini agar dapat memperoleh rahmatmu. Amin.”




5) STOLA (Lambang Penugasan Resmi)

Stola adalah semacam selendang panjang, kira-kira 4 inci (± 10 cm) lebarnya, warnanya sama dengan kasula, yang dikalungkan pada leher. Stola diikatkan di pinggang dengan singel. Stola merupakan simbol bahwa pemakainya sedang melaksanakan tugas resmi Gereja, terutama menyangkut tugas pengudusan (imamat). Secara khusus, sesuai dengan doa ketika mengenakannya, st...ola dimaknai sebagai simbol kekekalan.

Sebelum pembaharuan Konsili Vatikan Kedua, stola disilangkan di dada imam untuk melambangkan salib. Stola juga berasal dari budaya masa lampau. Para rabi mengenakan selendang doa dengan jumbai-jumbai sebagai tanda otoritas mereka.

Stola yang disilangkan juga merupakan simbolisme dari ikat pinggang bersilang yang dikenakan para prajurit Romawi: satu ikat pinggang dengan pedang di pinggang, dan ikat pinggang lainnya dengan kantong perbekalan, misalnya air dan makanan.

Dalam arti ini, stola mengingatkan imam bukan hanya pada otoritas dan martabatnya sebagai imam, melainkan juga tugas kewajibannya untuk mewartakan Sabda Allah dengan gagah berani dan penuh keyakinan (“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun” Ibr 4:12) dan untuk melayani kebutuhan umat beriman. Sekarang, imam mengenakan stola yang dikalungkan pada leher dan ujungnya dibiarkan menggantung, tidak disilangkan.

Stola yang sempit biasanya dikenakan di dalam kasula, sedangkan stola yang lebar dikenakan di atas kasula.

Doa ketika mengenakan stola:
“Ya Tuhan, kenakanlah kembali stola kekekalan ini, yang telah hilang karena perbuatan para leluhur kami, dan perkenankanlah aku meraih hidup kekal meski aku tak pantas menghampiri misteri-Mu yang suci."



KASULA HIJAU
Dikenakan sepanjang masa liturgi yang disebut Masa Biasa. Masa Biasa berfokus pada masa tiga tahun pewartaan Tuhan kita di depan publik, dan ayat-ayat Injil, teristimewa pada hari-hari Minggu, mengisahkan ajaran-ajaran, mukjizat-mukjizat, pengusiran setan dan perbuatan-perbuatan baik lain yang dilakukan-Nya selama masa itu.

Segala pengajaran dan peristiwa ini mendatangkan pengharapan besar ...dalam misteri keselamatan. Kita berfokus pada hidup-Nya yang Ia bagi bersama umat manusia semasa hidup-Nya di dunia ini, hidup yang sekarang kita bagi bersama-Nya dalam komunitas Gereja dan melalui sakramen-sakramen-Nya, dan kita menanti dengan rindu berbagi hidup abadi bersama-Nya dalam kesempurnaan di surga. Hijau melambangkan pengharapan dan hidup ini, sama seperti tunas-tunas hijau yang menyembul di antara pepohonan yang tandus di awal musim semi membangkitkan pengharapan akan hidup baru.



KASULA MERAH
Di satu pihak, merah melambangkan pencurahan darah; di lain pihak, merah juga melambangkan api kasih Allah yang bernyala-nyala. Karenanya, busana liturgis merah dikenakan pada hari Minggu Palma (ketika Kristus memasuki Yerusalem untuk menyongsong kematian-Nya), pada hari Jumat Agung, pada hari Minggu Pentakosta (ketika Roh Kudus turun atas para rasul dan lidah-lidah api hinggap di atas kepala mereka), dalam perayaan-perayaan Sengsara Tuhan, pada pesta para rasul dan pengarang Injil (terkecuali St Yohanes yang tidak mengalami kemartiran), dan pada perayaan-perayaan para martir.











KASULA PUTIH atau KUNING
Melambangkan sukacita dan kemurnian jiwa, dikenakan sepanjang Masa Natal dan Masa Paskah.

Busana liturgis putih juga dikenakan pada perayaan-perayaan Tuhan Yesus (kecuali peringatan sengsara-Nya); begitu pula pada pesta Santa Perawan Maria, para malaikat, para kudus yang bukan martir, pada Hari Raya Semua Orang Kudus (1 November), Kelahiran St Yohanes Pembaptis (24 Juni), Pesta ...St Yohanes Pengarang Injil (27 Desember), Pesta Tahta St Petrus Rasul (22 Februari) dan Pesta Bertobatnya St Paulus Rasul (25 Januari).

Putih juga dapat dikenakan pada Misa Pemakaman Kristiani dan Misa Arwah guna melambangkan kebangkitan Tuhan kita, ketika Ia menang atas dosa dan maut, kesusahan dan kegelapan.



KASULA UNGU dan JINGGA
dikenakan selama Masa Adven dan Masa Prapaskah sebagai tanda pertobatan, kurban dan persiapan. Di pertengahan dari masing-masing masa ini: pada hari Minggu Gaudete (Minggu Adven III) dan hari Minggu Laetare (Minggu Prapaskah IV) - busana liturgis berwarna JINGGA biasa dikenakan sebagai tanda sukacita.

Kita bersukacita di pertengahan masa ini karena kita telah melewati separuh persiapan kita dan sekarang mengantisipasi kedatangan sukacita Natal atau Paskah.




Beberapa ahli liturgi, khususnya di Gereja Episcopal, memperkenalkan busana liturgis berwarna biru sepanjang Masa Adven guna membedakannya dari Masa Prapaskah; namun demikian, tidak ada persetujuan yang diberikan oleh Gereja Katolik untuk busana liturgis berwarna biru ini. Ungu dapat juga dikenakan pada Misa Pemakaman Kristiani atau Misa Arwah.








KASULA HITAM
walau sekarang jarang sekali dipergunakan, dapat dikenakan pada Misa Pemakaman Kristiani sebagai tanda maut dan duka. Hitam dapat juga dikenakan pada Peringatan Arwah Semua Orang Beriman atau Misa Arwah, misalnya pada hari peringatan kematian orang yang kita kasihi.
Pada dasarnya, keanekaragaman warna busana liturgis berupaya membangkitkan kesadaran kita akan masa-masa kudus; suatu upaya lahiriah lain untuk menghadirkan misteri-misteri kudus yang kita rayakan.

Kamis, 05 April 2012

Lambang & Makna di Balik Perayaan Kamis Putih & Jumat Agung

Menjelang Tri Hari Suci Paskah (Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Vigili-Minggu Paskah Kebangkitan Tuhan), ada baiknya kita mengetahui berbagai lambang/simbol/tanda yang dipergunakan dalam perayaan-perayaan Tri Hari Suci untuk menyegarkan iman dan membantu kita untuk lebih menghayati makna Paskah yang sebenarnya.
Dalam perayaan Tri Hari Suci Paskah dipergunakan aneka lambang yang menggambarkan inti iman kristiani yaitu keselamatan manusia melalui karya penebusan Yesus di salib serta pembaharuan hidup manusia melalui kebangkitan mulia Tuhan Yesus Kristus, semua dilandasi hukum cinta kasih yang diajarkan oleh Tuhan kita Yesus Kristus.
                                                                                           KAMIS PUTIH
Kamis Putih dirayakan untuk memperingati Perjamuan Tuhan di malam terakhir sebelum sengsaraNya serta pendirian/institusi Sakramen Ekaristi, saat dimana Yesus mempersembahkan Tubuh dan Darah-Nya sendiri dalam rupa roti dan anggur yang diberikan-Nya kepada para murid-Nya serta pemberian perintah/hukum cinta kasih. Dalam perjamuan makan malam terakhir inilah salah satu murid Yesus yaitu Yudas Iskariot pengkhianatiNYA dengan menyerahkan Yesus ke para serdadu untuk diserahkan ke Pengadilan dan akhirnya di Salib.
Dalam perayaan Kamis Putih di Gereja saat ini ada berbagai macam prosesi yang mengandung arti yang perlu kita tahu:
  • Pembasuhan kaki (Mandatum), melambangkan cinta kasih dan pelayanan total Yesus Kristus kepada para muridNya. Ia yang adalah Allah rela merendahkan diri menjadi manusia dan demi cinta kasihNya yang total kepada manusia Ia berkenan menunjukkan ketotalan cinta dan pelayanan itu dengan merendahkan diri menjadi pembasuh kaki para muridNya, yang biasanya dilakukan oleh para budak.
  • Perarakan Sakramen Mahakudus, melambangkan perjalanan Yesus dari tempat perjamuan malam terakhir ke Taman Getsemani. Dalam perarakan di hari Kamis Putih, Sakramen Mahakudus diletakkan dalam sibori (bukan monstrans!), melambangkan Yesus dalam kesederhanaan, ketakutan dan kesedihan hendak berdoa kepada BapaNya. Perarakan Sakramen Mahakudus ini diiringi lagu Tantum Ergo dan diselingi penyembahan-penyembahan (berlutut) oleh umat yang ditandai bunyi (klothokan) kayu tanda kesedihan (bukan suara logam atau lonceng yang menandakan kemeriahan).
  • Perlucutan altar, Disini segala hiasan yang ada di altar akan dilucuti dan disingkirkan, meninggalkan altar yang polos tanpa hiasan apapun dan tabernakel yang terbuka. Ini melambangkan Gereja (kita semua) yang mulai masuk dalam suasana hati berduka dan dalam kesedihan mendalam. Perlucutan altar juga hendak mengungkapkan dan mengenangkan Yesus yang masuk dalam penderitaan dan kesengsaraan, segala kemuliaan yang ada padaNya diambil dan yang nampak ‘hanyalah’ Anak Manusia yang Sengsara.
  • Tuguran atau Tirakatan, ialah saat Sakramen Mahakudus telah diletakkan di altar persinggahan, dan umat bersembah sujud, berdoa, dan merenung di depan Sakramen Mahakudus. Ini melambangkan Yesus yang dalam ketakutan dan kegentaran berdoa kepada Bapa di Taman Getsemani. Di taman itu Yesus berpesan kepada para muridNya: “Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku” (Mat 26:38). Juga SabdaNya: “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan” (Mat 26:40b-41). Umat melaksanakan Tuguran / berjaga-jaga sambil berdoa baik secara pribadi maupun dalam kelompok, entah secara bersama atau bergantian.
                                                                                       JUMAT AGUNG
Jumat Agung adalah Perayaaan atau Ibadat Pengenangan Sengsara Tuhan; Di dalamnya Gereja merenungkan kesengsaraan Kristus, menghormati salib serta mendoakan keselamatan seluruh dunia. Dimana pada hari ini Yesus mengalami sengsaranya disiksa, diadili, dan sampai wafat di kayu salib tepat Pk 15:00. Oleh karena itu saat ini perayaan JUMAT AGUNG di Gereja-gereja  dilaksanakan pukul 2 siang dengan maksud agar tepat Pukul 3 sore nya pas dengan prosesi pembacaan SABDA ALLAH dalam perayaan ekaristi tersebut, dimana Yesus wafat di kayu salib.Lambang-lambang yang dipergunakan dakan Hari Jumat Agung adalah :
  • Altar yang kosong, tanpa hiasan, melambangkan kesedihan dan kedukaan Gereja, juga menggambarkan kekosongan hati karena “Sang Mempelai telah diambil”. Hal itu lebih dipertegas dalam gambaran tabernakel yang terbuka dan lampu Tuhan yang dipadamkan
  • Keheningan dalam keseluruhan Upacara : keheningan nampak dalam keseluruhan upacara Jumat Agung. Tidak ada Nyanyian pembuka dan penutup, bunyi lonceng atau alat-alat musik yang lain. Keheningan itu mau menggambarkan kesedihan yang dialami Gereja bersama Kristus yang menderita dan menyerahkan diri untuk kita.
  • Tiada Tanda Salib. Upacara Jumat Agung tidak diawali ataupun diakhiri dengan Berkat dambil membuat tanda salib, karena Salib Kristus itu telah nyata hadir dan di hadapkan kepada seluruh umat. Semua yang hadir sebenarnya telah menandai diri dengan Tanda Salib itu (dalam arti yang sebenarnya dan sedalam-dalamnya) dengan: kehadirannya dalam Upacara, dalam puasa, pantang dan mati raganya, serta dalam tindakan cintakasihnya kepada Kristus melalui ritus penghormatan terhadap salib Kristus.
  • Di awal upacara, imam menghormati altar dengan cara merebahkan diri di depannya, seluruh umat juga hendaknya menundukkan diri dengan khidmat. Hal ini melambangkan pernyataan kefanaan manusia: “Engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu” (Kej 3:19)
  • Pewartaan (proklamasi) Injil tentang Kisah Sengsara Tuhan dibawakan dengan cara sesuai dengan hakikatnya (liturgis), melambangkan Yesus sendiri yang bersabda.
  • Doa Umat Meriah dibawakan secara khusus. Setelah korban Yesus terlaksana di Salib, dan dalam kepercayaan mendalam bahwa Allah Bapa telah menerima kurban itu dan karenanya mengembalikan manusia pada diriNya, inilah saatnya Gereja mendoakan hal-hal terpenting untuk Gereja dan dunia. Ada 10 doa permohonan yang diucapkan oleh Gereja demi kesejahteraan Gereja, bagi pewartaan iman dan bagi mereka yang miskin, menderita dan berkekurangan.
  • Penghormatan Salib Suci merupakan puncak liturgi Jumat Agung. Perayaan dipimpin oleh Imam Selebran dengan tiga seruan: “Lihatlah kayu salib….” dan membuka sedikit demi sedikit selubung yang menutupi Salib Kristus. Pembukaan selubung Salib Kristus ini melambangkan beberapa hal yang sangat dalam :
  1. Menunjukkan Sang Penyelamat yaitu Yesus Kristus yang telah rela berkorban sampai mati bagi kita semua, dan semestinya bersyukur karena mempunyai Penyelamat yang demikian dahsyat.
  2. Membuka kembali selubung / penghalang antara manusia dan Allah, karena oleh korban Yesus itu segala dosa manusia telah ditebus dan pengampunan Allah melimpah atas kita. Dosa yang menjadikan kita terpisah dari Allah, oleh korban Yesus, Allah berkenan melimpahkan kerahimannya pada manusia dan kita boleh kembali memandang Wajah Allah dan memperoleh harapan kembali bahwa kelak kita bersatu denganNya dalam kebahagiaan kekal.
  3. Membuka selubung penderitaan dan kematian, ialah bahwa salib dan penderitaan manusiawi kita memiliki sisi penebusan jika dilalui dengan setia dan berpegang teguh pada kehendak Allah. Maut / Kematian bukanlah lagi akhir dari segalanya (lihat makna Malam Paskah). Kematian kini hanyalah sebagai jalan yang (justru) menghantar kita kembali kepada Allah.
  • Nyanyian Improperia. Selama penghormatan salib dilaksanakan oleh umat, dinyanyikan lagi “Improperia” berdasarkan teks Popule Meus, ialah suatu lagu Celaan bagi umat (kita semua) yang tidak tahu diri!! dimana kita menyalibkan sendiri Sang Mesias yang tidak memiliki salah apapun terhadap kita.
Hai umat apa salahku kepadaMu?
Kapan Aku menyusahkanmu?
Jawablah Aku.
     Kupukul para musuhmu, Kubuat tunduk padamu
     tetapi kini balasmu: kau pukuli kepalaKu
          Kujunjung kau tak terperi, Kuberi tongkat rajawi
          tetapi kini balasmu: mahkota duri yang ngeri
     Engkau lemah Aku kuatkan, engkau susah Aku hiburkan
     tetapi kini balasmu: kau sudah meninggalkan Aku
          Engkau salah Aku ampuni, kau jauh Aku hampiri
          tetapi kini balasmu: kau sudah mengingkariKu
     Kau mati Aku hidupkan, kau sakit Aku pulihkan
     tetapi kini balasmu: kau sudah menyalibkanKu

Sungguh suatu gubahan lagu yang mengharu biru, menusuk hati dan tiada taranya di keseluruhan liturgi Romawi. Dan memang lagu itu menggambarkan dengan baik dan benar tentang kejahatan, ketidakbenaran dan ketidaksetiaan kita semua, yang sering jatuh dalam dosa, yang menyebabkan Kristus harus menderita sedemikian keji dan ngeri.
  • Menghormati dan menyembah salib Kristus, kita mengungkapkan iman kita dalam tanda penebusan dan penyelamatan; sebagaimana Gereja berdoa dan mempersembahkan kepada Bapa surgawi Tubuh dan Darah PuteraNya seraya memohon anugerah Roh Kudus dalam iman dan pengharapan (doa epiklesis). Jadi penghormatan Salib mengungkapan iman, cinta dan pengharapan kita kepada Yesus Kristus; bukan sekedar kenangan bahwa Yesus sudah wafat di salib. Tindakan cinta dengan penuh iman dan pengharapan ini diungkapkan dengan cara mencium atau memberi kecupan pada salib Kristus, sebagaimana kecupan kasih sayang orang tua kepada anaknya atau kecupan cinta suami-istri.
  • Ritus Penutup: Imam menutup perayaan ini dengan mengulurkan kedua tangannya ke atas jemaat (= Berkat, tapi bukan dengan tanda salib besar, lihat keterangan di atas). Lalu dilanjutkan dengan perarakan keluar dalam keheningan, tanpa iringan lagu penutup atau membiarkan tetap dalam suasana “merenung dan berdoa”, berjaga-jaga lagi hingga malam paskah.
(terima kasih untuk ijin mengutipnya kepada Bpk Y.Agus Yudianto *http://programkatekese.blogspot.com)