Welcoming

Hi pals...nice to meet u all here ^_^
Please feel free to search any info which u need.


Jumat, 09 Desember 2011

History of Batik


Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.

ETIMOLOGI
Kata "batik" berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik".

SEJARAH TEKNIK BATIK
Seni pewarnaan kain dengan teknik pencegahan pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.[2]. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.[3]
Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. [2]Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.[4]
G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.[4] Detil ukiran kain yang menyerupai pola batik dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur abad ke-13. Detil pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya dapat dibuat dengan canting telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.
Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa.[5] Oleh beberapa penafsir,who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik.
Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.[2]
Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke Persekutuan Malaya juga membawa batik bersama mereka.

BUDAYA BATIK
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.


Batik Cirebon bermotif mahluk laut
Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.

CORAK BATIK
Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga memopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

MOTIF DAN FILOSOFI KAIN BATIK
Motif Batik Kawung


Motif batik kawung mempunyai makna yang melambangkan harapan agar manusia selalu ingat akan asal-usulnya.
                Mengenakan batik kawung mencerminkan pribadinya sebagai seorang pemimpin yang mampu mengendalikan hawa nafsu serta menjaga hati nurani agar ada keseimbangan dalam perilaku kehidupan manusia.
Dari perpektif historis, motif batik kawung awalnya hasil dari stylisasi kolang kaling atau buah aren, yang bentuk dasarnya dibuat empat lingkaran oval. Posisi empat lingkaran elips tersebut sengaja diatur menyentuh satu dengan yang lain secara semetris, sehingga menimbulkan ilusi optic berupa bunga empat kelopak.
Secara umum makna filosofis Batik Kawung berawal dari buah sebagai simbolisasi harapan dan kesuburan. Lalu, aren sebagai penghasil gula bermakna keagungan dan kebijaksanaan. Pohon aren yang lurus tanpa cabang melambangkan keadilan. Jadi, silmbolisasi flora aren dalam Batik Kawung bermakna filosofis tentang harapan terwujudnya kekuasaan yang adil dan bijaksana.
Sedangkan empat unsur bunga kawung yang saling beririsan secara semetris dengan menyisakan ruang kosong dtiitik pusat, disebut kiblat 4 lima pancer. Falsafah adiluhung Jawa ini bermakna memandang dari 4 perspektif mata angin guna mendapatkan cahaya (pancer) kebijaksanaan.

 Motif Kawung Sen
Ada banyak ragam motif batik kawung, salah satunya adalah batik kawung sen yang diambil dari nama pecahan satu sen.Makna corak ini adalah bahwa kehidupan ini akan kembali kepada alam sawung. Maka didalam tradisi dahulu motif ini dipakai untuk penutup orang meninggal.








Motif Batik Parang


Motif batik parang pada dasarnya tergolong sederhana,berupa lilitan leter S yang jalin-menjalin membentuk garis diagonal dengan kemiringan 45 derajat.Namun,filosofi yang terkandung di dalamnya tidak sesederhana motifnya.Ada ajaran-ajaran keutamaan yang terkandung di dalamnya. Parang berasal dari kata pereng, yang berarti lereng. Perengan menggambarkan sebuah garis menurun dari tinggi ke rendah secara diagonal. Susunan motif leter S jalin-menjalin tidak terputus melambangkan keseimbangan.Bentuk dasar leter S diambil dari ombak samudra yang menggambarkan semangat tidak pernah padam.
                Batik parang memiliki nilai filosofis yang sangat tinggi berupa petuah agar tidak pernah menyerah sebagaimana ombak laut yang tak pernah berhenti bergerak. Batik parang pun mengambarkan jalinan yang tidak pernah putus,baik itu dalam arti upaya memperbaiki diri, upaya memperjuangkan kesejahteraan, maupun bentuk pertalian keluarga dimana batik parang di masa lalu merupakan hadiah dari bangsawan kepada anak-anaknya. Motif parang secara eksplisit memiliki makna kecerdasan. Sangat jarang motif parang digunakan untuk  upacara pernikahan. Apabila digunakan sebagai busana pengantin,kalangan masyarakat Jawa menganggap dengan menggunakan motif parang sebagai busana pernikahan akan menyebabkan rumah tangganya dipenuhi percekcokan.
                Garis lurus diagonal melambangkan rasa hormat dan keteladanan,serta kesetiaan pada nilai-nilai kebenaran.Aura dinamis dalam motif ini juga mengajarkan kecekatan, kesigapan, dan kesinambungan antara satu pekerjaan dengan pekerjaan lainnya. Artinya, tidak ada kata berhenti. Begitu menyelesaikan satu pekerjaan, segeralah berlanjut pada pekerjaan berikutnya.

Motif Parang Barong
  Ada banyak motif batik parang, salah satunya adalah parang barong. Motif parang barong memiliki makna pengendalian diri dalam dinamika usaha yang terus menerus,kebijaksanaan dalam bergerak dan kehati-hatian dalam bertindak. Parang barong hanya diperuntukkan bagi Sultan dan keluarganya, bahkan proses pembuatannya pun dikisahkan untuk menulis tiap garisnya lurus ditulis dalam satu tarikan nafas, sehingga memerlukan konsentrasi lahir  batin agar garisnya tidak terputus.



Motif batik sidomukti
Motif batik sidomukti mengandung makna kemakmuran. Demikianlah bagi orang Jawa, hidup yang didambakan selain keluhuran budi, ucapan dan tindakan, tentu agar hidup akhirnya dapat mencapai mukti atau makmur baik di dunia maupun di akhirat.
                Motif sido mukti biasanya dipakai oleh perngantin pria dan wanita pada acara pernikahan, dinamakan juga sebagai sawitan ( sepasang ). Sido berarti terus menerus atau menjadi dan Mukti berarti hidup dalam berkecukupan dan kebahagiaan, jadi dapat disimpulkan motif ini melambangkan harapan akan masa depan yang baik, penuh kebahagiaan untuk kedua mempelai.
Motif  lain Sido Mukti


Motif batik mega mendung
Sejarah timbulnya motif mega mendung yang diadopsi oleh masyarakat Cirebon,bahwa Sunan Gunungjati menikahi Ratu Ong Tien dari negeri China. Beberapa benda seni yang dibawa dari negeri China diantaranya adalah keramik, piring, kain yang berhias bentuk awan. Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas,bebas dan mempunyai makna transidental ( Ketuhanan ). Konsep mengenai awan ini juga digunakan oleh kaum Sufi untuk ungkapan dunia besar atau alam bebas.
                Pada bentuk mega mendung bisa kita lihat garis lengkung yang beraturan secara teratur dari bentuk garis lengkung yang paling dalam ( mengecil ) kemudian melebar keluar ( membesar ) menunjukkan gerak yang teratur harmonis. Garis lengkung yang beraturan ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah ( naik dan turun ) kemudian berkembang keluar untuk mencari jati diri ( belajar/menjalani kehidupan sosial agama ) dan pada akhirnya membawa dirinya mem,asuki dunia baru menuju kembali kedalam penyatuan diri setelah melalui pasang surut ( naik dan turun ) pada akhirnya kembali ke asalnya.
                Unsur warna biru yang kita kenal dengan melambangkan warna langit yang begitu luas, bersahabat dan tenang, ada yang mengartikan bahwa biru melambangkan kesuburan sehingga warna batik megamendung pada awalnya selalu memberikan unsur warna biru diselingi dengan warna merah.





Gambar batik khas Mojokerto

Motif Mrico Bolong

Koro Renteng

CARA PEMBUATAN
Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.


JENIS BATIK

MENURUT TEKNIK
cara pembuatan batik cap
  • Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
  • Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.
  • Batik lukis adalah proses pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada kain putih.

MENURUT ASAL PEMBUATAN
Batik Jawa
batik Jawa adalah sebuah warisan kesenian budaya orang Indonesia, khususnya daerah Jawa yang dikuasai orang Jawa dari turun temurun. Batik Jawa mempunyai motif-motif yang berbeda-beda. Perbedaan motif ini biasa terjadi dikarnakan motif-motif itu mempunyai makna, maksudnya bukan hanya sebuah gambar akan tetapi mengandung makna yang mereka dapat dari leluhur mereka, yaitu penganut agama animisme, dinamisme atau Hindu dan Buddha. Batik jawa banyak berkembang di daerah Solo atau yang biasa disebut dengan batik Solo.


TIPS DAN TRIK MERAWAT BATIK
Ada beberapa hal yang perlu diperhatiakan agar busana atau kain batik tetap indah, diantaranya adalah sebagai berikut :
  • 1.     Mencuci kain batik dengan menggunakan shampo rambut. Sebelumnya,larutkan dulu shampo hingga tidak ada lagi bagian yang mengental. Setelah itu baru celupkan kain batik atau busana anda. Selain shampo rambut bisa juga menggunakan sabun pencuci khusus batik yang beredar di pasaran.
  • 2.       Pada saat mencuci batik jangan digosok atau disikat.Jika batik tidak terlalu kotor maka cucilah dengan menggunakan air hangat. Jika batik terkena noda cukup mencucinya dengan sabun mandi saja, akan tetapi apabila nodanya membandel dapat menggunakan kulit jeruk yang digosokkan pada noda membandel saja. Jangan memcuci batik dengan menggunakan mesin cuci.
  • 3.       Setelah kotoran hilang batik dijemur di tempat yang teduh dan tidak perlu diperas.
  • 4.       Hindari menyetrika secara langsung, jika terlalu kusut bisa semprotkan air pada batik kemudian lapisi batik dengan menggunakan kain yang berbeda. Hal ini untuk menghindari batik dari panas langsung setrikaan.
  • 5.       Bila ingin memberi pewangi dan pelembut pada batik tulis jangan langsung disemprotkan pada kainnya.Tutupi dulu kain dengan koran, lalu semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain. Sebaikknya tidak perlu menyemprotkan parfum ke kain atau pakaian berbahan batik sutra berpewarna alami.
  • 6.       Sesudah disetrika sebaiknya simpan batik didalam plastik agar tidak dimakan ngengat dan jangan di beri kamper atau kapur barus karena terlalu keras sehingga dapat merusak batik. Ada baiknya diberi merica atau lada yang dibungkus tisu lalu masukkan dalam lemari pakaian untuk mengusir ngengat, atau dapat juga menggunakan akar wangi yang dicelupkan dalam air panas kemudian dijemur sampai kering lalu dicelupkan lagi dalam air panas dan jemur sampai kering.Setelah akar wangi tersebut kering baru dapat digunakan sebagai pengganti kamper atau kapur barus.


(from: Wikipedia dan http://aisheyoenie.blogspot.com/2011/04/batik-indonesia.html)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar